Mengintip Keunikan Tradisi Maulid Nabi di Aceh Selatan

Mengintip  Keunikan Tradisi Maulid Nabi di Aceh Selatan
Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Aceh Selatan | Photo : ACEHLENS.COM

Setiap memasuki bulan maulid tepatnya bulan Rabi’ul Awal tahun Hijriah setiap umat islam pasti akan memperingati Maulid Nabi SAW. Sebagai peringatan untuk mengingat perjuangan Rasulullah dan melantunkan shalawat kepadanya. Di Indonesia sendiri peringatan maulid umumnya dilakukan dengan membuat acara ceramah agama, shalawatan dan kenduri. Selain di mesjid menjadi pusat pelaksanaannya, kegiatan maulid juga di meriahkan oleh lembaga-lembaga tertentu, instansi pemerintahan maupun lembaga swasta.
Di Aceh, peringatan maulid juga tidak jauh berbeda dengan daerah lainnya, selain kegiatannya bercentral di mesjid-mesjid atau meunasah (surau) juga dilaksanakan di rumah-rumah warga masing-masing sesuai kemampuan dan kemudahan rezeki.
Di Kabupaten Aceh Besar misalnya, kegiatan kenduri maulid selain di mesjid, juga di laksanakan di rumah-rumah layaknya adanya kenduri seperti pesta pernikahan, baik itu dalam partai kecil maupun besar. Biasanya tuan rumah akan mengundang sanak keluarga, tetangga, teman, kerabat kerja, untuk menikmati hidangan layaknya acara-acara kenduri biasanya. Sebahagiaanya juga mengundang anak-anak pesantren untuk melantunkan shalawat di rumah-rumah. Setelah itu sorenya, kegiatan maulid berpusat di mesjid atau meunasah (surau) dengan kegiatan Like Aceh (shalawatan) kemudian menjamu tamu undangan warga-warga sekitar, perdesanya dengan jumlah hidangan yang banyak atas sumbangan warga desa tuan rumah. Biasanya setiap rumah (bagi yang mampu) menyumbang satu hidang makanan (satu talam), kemudian panitia mendata, mengumpulkan dan membagikan ke tamu undangan per kafilah masing-masing terdiri atas berbagai desa yang sudah disediakan tempat duduknya.
Selain untuk memperingati kelahiran nabi, kegiatan ini juga dapat meningkatkan tali silaturahmi antar warga dan desa, karena setiap desa pasti akan melaksanakan maulid dengan hari dan tanggal berbeda dengan desa lainnya dan saling mengundang. Setiap minggunya selama bulan maulid setiap desa pasti ada kegiatan maulid di Aceh.

Mengintip  Keunikan Tradisi Maulid Nabi di Aceh Selatan

MEREKAM KEUNIKAN TRADISI MAULID DI ACEH SELATAN

Senin, (15/1/2018) saya mendapat kesempatan melihat pelaksanaan maulid di Aceh Selatan tepatnya di Desa Krueng Batee Kecamatan Kluet Utara Kabupaten Aceh Selatan. Sebagai putra kelahiran Aceh Selatan yang saat ini sudah mukim di Aceh Besar, saya mengupayakan untuk pulang kampung setahun sekali untuk mengunjungi saudara dan kerabat. Pada tahun ini, kebetulan pulang kampung saya pilih di awal tahun dan ternyata bertepatan dengan pelaksanaan maulid di desa kelahiran saya ini. Sejak kecil sebenarnya saya sudah mengikuti tradisi maulid disini, bahkan dulu waktu masih jadi santri TPA saya termasuk salah satu anggota Like Aceh di desa, yang sering menghadiri undangan maulid untuk mempersembahkan Like Aceh atau shalawat nabi di rumah warga maupun di desa-desa.
Saat itu, tradisi maulid yang dilaksanakan oleh warga desa ini biasa-biasa saja menurut saya. Dan hal berbeda saya temukan setelah saya hijrah ke Aceh Besar sejak tahun 2004. Pelaksanaan maulid di Aceh Besar kurang lebih seperti yang telah saya ceritakan diatas. Awalnya saya merasa aneh dengan kegiatan maulid di Aceh Besar layaknya kenduri pesta, karena tetangga maupun kerabat tuan rumah diundang ke rumah untuk menikmati hidangan layaknya pesta. Dan Hal berbeda yang saya temukan di Aceh Selatan, tepatnya di daerah kelahiran saya ini.
Mengintip  Keunikan Tradisi Maulid Nabi di Aceh Selatan

Disini, kemeriahan maulid berpusat di masjid atau meunasah atau surau (bagi desa yang tidak ada masjid di desanya). Undangan kerumah seperti di Aceh Besar tidak ada disini, bukan tidak ada sebenarnya, ada hanya saja tidak seperti di Aceh Besar layaknya orang menghadiri pesta, paling yang di undang hanya tetangga samping rumah, dan itupun tidak banyak. Karena setiap warga sudah terlebih dahulu makan di rumah masing-masing. Tapi informasi yang saya dapat, ada yang mengundang tamu dalam jumlah besar disini, terjadi di rumah-rumah tertentu, di rumah pejabat maupun di rumah-rumah tokoh besar masyarakat misalnya, dan itupun tidak semuanya berlaku. Intinya dalam hal ini sangat berbeda dengan yang ada di Aceh Besar.
Mengintip  Keunikan Tradisi Maulid Nabi di Aceh Selatan

Hal unik lainnya juga terlihat pada sajian hidangannya, disini warga menyajikan makanan bukan dalam bentuk hidangan talam, melainkan dalam rumah-rumah hiasan kecil (Bale ; Bahasa Aceh). Bentuk dari bale tersebut dihias dengan aneka warna, dan arsitekturnya pun berbeda sesuai dengan kreatifitas warga masing-masing. Didalam sekat-sekat bale tersebut diselipkan aneka makanan, mulai dari nasi, lauk, dan buah-buahan yang terdiri dari permen, air mineral, snack-snack ringan, bahkan sebahagiannya ada yang menyediakan rokok yang dililitkan sekitar permukaan bale tersebut khusus untuk orang dewasa. Kreatifitas warga sangat dituntut dalam menghias hidangan mereka masing-masing, dan inilah yang menjadi ciri khas dari segi penyajian makanan.
Mengintip  Keunikan Tradisi Maulid Nabi di Aceh Selatan

Untuk pelaksanaannya, sama halnya dengan Aceh Besar, desa tuan yang bertindak tuan rumah akan mengundang desa-desa tetangga. Hanya saja, di Aceh Besar tamu undangan datang ke desa tuan rumah hanya untuk menikmati hidangan saja, biasanya tamu datang lebih awal saat Like Aceh masing berlangsung tepatnya ba’da Ashar. Peserta like dari warga tuan rumah, baik itu dari warga desa sendiri maupun kelompok Like Aceh tertentu yang di undang untuk tampil. Setelah Like Aceh selesai, tamu undangan mulai duduk di tempat kafilah masing-masing bersiap untuk menyantap sajian hidangan yang telah disediakan.
Dan hal ini tidak berlaku di Aceh Selatan, disini pelaksanaanya biasanya dimulai pukul 14.00 WIB (Ba’da Dhuhur). Dan desa undangan bukan hanya datang untuk menikmati hidangan saja. Mereka dituntut untuk menampilakan Like Aceh atau shalawat, sesuai dengan kemampuan mereka masing. Terlihat layaknya sebuah lomba. Masing-masing desa larut dalam irama dan syair like masing-masing dengan kelengkapan sound system masing-masing. Siapa yang lebih bagus sound system dan syairnya dialah yang terlihat lebih baik. Dan biasanya setiap desa memang sudah ada syair masing-masing dengan sound system yang standar. Semua kelompok desa bershalawat dan bersuara dengan gerakan likenya pun berbeda sesuai dengan kreatifitas masing-masing.
Mengintip  Keunikan Tradisi Maulid Nabi di Aceh Selatan

Penampilan like inilah yang menjadi tontonan warga tuan rumah, selain menikmati syairnya, ritme gerakan likenya (lingik : Bahasa Aceh) yang pesertanya terdiri diri orang dewasa hingga anak-anak kecil berumur berkisar 5 tahun ke atas. Ini juga bagian dari pada keunikan dan keindahan sendiri.
Kemudian, setelah beberapa jam tampil, peserta like (warga desa tamu undangan) akan disuguhkan dengan hidangan berupa buah-buahan dan minuman. Hidangan tersebut juga tidak ubah layaknya hidangan makanan berupa bale. Hanya saja, di dalam bale tersebut hanya dipenuhi oleh buah-buahan dan minuman. Sesi jamuan pertama selesai, tamu undangan kembali melanjutkan like, dan gerakannya sudah berubah, sesi pertama gerakan biljulus (dengan cara duduk) dan berubah menjadi gerakan bilqiyam (dengan posisi gerakan berdiri).
Setelah like ini selesai, barulah tiba saatnya menghadiahi tamu undangan (peserta like) dengan bale atau hidangan berupa makanan. Setiap desa akan di suguhi dengan jumlah bale yang sesuai jumlah orangnya, dengan prediksi makanan mencukupi semua peserta.
Baca Juga Kalau Kamu Ke Aceh Selatan, Jangan Lupa Mampir Disini, Ada Jus Nipah Pertama di Indonesia
Setelah semua bale masuk ke kafilah desa masing-masing, barulah isi-isi bale tersebut diserbu oleh tamu undangan, dan dalam durasi 5 menit saja seluruh isinya bisa lenyap. Disini isinya berupa makanan tidak dimakan di tempat, melainkan untuk dibawa pulang, makanya dalam sekejap bisa lenyap. Karena setiap bale tersebut sudah di sediakan kantong plastik untuk membawa pulang bekal maulid tersebut.
Mengintip  Keunikan Tradisi Maulid Nabi di Aceh Selatan

Setelah semua isi bale habis, barulah para tamu undangan mengangkat kaki untuk kembali ke daerah masing-masing dan bersiap-siap menunggu undangan dari desa lainnya. Dari kegiatan maulid tersebut, paling tidak ukhuwah antar desa terikat semakin erat dan sebagai momen untuk mengingat perjuangan Rasulullah melalui shalawatnya.
Sebagai informasi, sekitar tahun 2003 kebawah, saat saya masih domilisi di Aceh Selatan, tempat hidangan tersebut bukan saja berbentuk bale seperti sekarang ini, melainkan banyak bentuk, seperti replika helicopter, pesawat, boat, masjid, yang otomatis isinya lebih banyak lagi dan hiasannya pun lebih menarik lagi. Hanya saja, saat ini corak seperti itu sudah mulai hilang dan disatukan dengan bentuk bale kecil saja menurut kesepakatan perangkat desa.

LIHAT VIDEONYA :

________________________
tulisan ini sudah dipublikasikan di akun steemit @kaseldoc , pengelola blog ACEHLENS.COM

Ihsan, Si "Karate Kids" Dari Aceh Besar

Ihsan, Si "Karate Kids" Dari Aceh Besar
Muhammad Ihsan Syahni, siswa SD Islam Laboratorium, Neuheun, Aceh Besar. | Foto: Noufrizal/Acehlens.com
ACEHLENS.COM - "Hoss" teriak seorang anak kecil bertubuh tambun, berseragam putih, bersabuk merah sembari menundukkan kepalanya ke arah dua pria dewasa berseragam hijau tua di depannya.
Suara lantang ia keluarkan pada setiap gerakan, membuat seisi ruangan kelas yang berukuran 7x9 meter persegi mendadak hening. Sebagian penonton mencoba mendokumentasikan tiap gerakan indah itu lewat telepon genggam. Sedangkan sebagian penonton lainnya bertepuk tangan dengan pandangan takjub tertuju kepadanya.
Meski pun ke dua pria berseragam TNI yang dihormatinya bertubuh kekar berdiri dihadapannya. Namun, matanya tak pernah berkedip. Sorotan matanya terlihat tajam seakan mereka adalah musuh yang harus ia taklukkan.
Bocah tambun berkulit putih itu adalah Muhammad Ihsan Syahni. Ia salah seorang atlet karate yang bertading dalam kategori Kata (seni jurus) pada ajang Olympiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN). Kegiatan itu diselenggarakan oleh UPTD Pendidikan wilayah lima Kabupaten Aceh Besar di SD Negeri Lam Ujong, Ulee Kareng.
Ihsan, begitulah sapaan karibnya. Bukanlah atlet karate yang asing di kalangan peserta lainnya. Siswa kelas empat yang sekarang menempuh pendidikan di SD Islam Laboratorium, Neuheun, Aceh Besar pernah tercatat menyumbangkan medali untuk kontingen Aceh pada ajang Kapolda Lampung Cup yang diselenggarakan pada tahun 2016 silam.
"Alhamdulillah, dulu Ihsan berhasil meraih medali perunggu ketika bertanding di Lampung," ujar Zulfikar. Guru Olahraga yang mendampingi Ihsan pada saat itu.
Ihsan yang kini berlatih di unit Dojo Lalu Lintas (Lantas) telah menyukai karate semenjak ia duduk di kelas 1 SD.
"Sekolah kami ada ektrakurikuler karate. Ihsan pertama sekali mengikuti karate ketika ia kelas 1. Dan di kelas 2, ia sudah mulai mewakili sekolah untuk bertanding dan ia berhasil meraih beberapa juara," kata Zulfikar.
Selain berhasil meraih juara pada kejuaraan nasional,ia juga pernah beberapa kali menjuarai kompetisi lokal. Diantaranya adalah juara tiga karate se-Aceh tahun 2016,Juara 2 O2SN tingkat UPTD 5 Wilayah Aceh Besar pada tahun 2016, Juara 3 karate IYOS MENPORA Provinsi Aceh pada tahun 2016,Juara 2 karate piala Danlanud SIM tahun 2017.
Tak hanya mengikuti kompetisi lokal dan nasional, pada bulan Februari yang lalu Ihsan juga pernah mengikuti Pertandingan karate tingkat internasional di Malaysia. "Namun sayangnya,Ihsan harus kalah poin dari petarung yang berasal dari Vietnam". kata Zulfikar
Saat dijumpai oleh Acehlens.com di sela sela istirahatnya, Ihsan mengatakan jika olahraga karate merupakan olahraga yang menantang bagi dirinya. Ia mengaku sangat nyaman mengikuti seluruh latihan bela diri asal Jepang tersebut.
"Enak saja kalau main karate. Seragamnya keren, kemudian juga menantang," ucap Ihsan sembari mengusap peluh di wajahnya.
Meski pun harus berlatih secara rutin, prestasi akademis di sekolahnya juga tak lantas menurun. Ia selalu masuk ke dalam peringkat tiga besar di dalam kelasnya. "Semester yang lalu,ihsan meraih rangking dua di kelasnya". ujar Zulfikar
Sebelum bertanding pada babak final, Ihsan pun berharap agar dirinya pada tahun ini bisa mewakili Kabupaten Aceh Besar pada tingkat provinsi Aceh. "Saya berharap agar saya bisa menang,karena jika saya menjadi juara. Saya bisa wakili Aceh di tingkat nasional dan selanjutnya di tingkat Internasional," ujar Ihsan.
Zulfikar pun berharap agar pemerintah dapat memberi dukungan yang lebih kepada seluruh atlet muda yang berprestasi.
"Selama ini seluruh atlet yang bertanding di dalam maupun luar negeri harus mengeluarkan dana pribadinya tanpa ada bantuan dana dari pemerintah," tutup Zulfikar.

72 Tahun RI, Kerja Bersama Menyebar Inspirasi Untuk Negeri

Menyebar Inspirasi Untuk Indonesia Melalui Tinta dengan Semangat Kerja Bersama
Dok. Hidden Pictures

           72 tahun bukan waktu yang singkat untuk dijalani, berbagai halangan rintangan tentunya dihadapi oleh bangsa Indonesia dalam memperjuangkan identitasnya. Negeri yang kaya raya akan hasil alamnya bergelut melawan para musuh bangsa. Tetesan darah para pejuang dan syuhada menjadi saksi pengorbanan anak bangsa dalam memerdekakan rumahnya Indonesia. Teriakan para pemuda yang bergelora dan semangat gotong royong mereka saat itu pun  menjadi salah satu simbol perjuangan negeri Ibu pertiwi ini.
Kini, angin segar kemerdekaan sudah kita hirup bersama, tidak ada lagi bayang-bayang penjajah terlintas di mata. 17 Agustus 1945 menjadi hari bersejarah untuk kita bahwa bangsa kita sudah terlepas dari penjajah yang merongrong kehidupan negara kita saat itu. Hari ini, sebagai rasa terima kasih untuk segenap pahlawan bangsa dan untuk merefleksi kembali perjuangan masa lalu, pada 17 Agustus setiap tahunnya kita mengikuti upacara dan aneka ragam agenda yang bertujuan untuk terus menumbuhkembangkan kecintaan kita pada bangsa yang katanya tongkat kayu dan batu jadi tanaman ini.  

Memang, kisah perjalanan panjang bangsa ini rasanya tak cukup hanya disisi dengan upacara dan aneka lomba. Ada banyak cerita yang lahir dari para pahlawan bangsa yang belum diketahui semua oleh penerus estafet bangsa ini, dan ini menjadi tugas kita bersama sebagai pemuda, sebagai sumber informasi pelopor kemajuan.
Pemuda masa lalu berdiri tegak menjadi pelopor kemerdekaan, dan pemuda saat ini dituntut untuk menjadi pelopor kemajuan bangsa. Karena rasanya tak sanggup kita balas atas jasa pahlawan yang telah rela berjuang menumpakan darah untuk menjaga bumi nusantara ini, dan kita sebagai pemuda masa kini paling tidak, kita berjuang bersama menjaga rumah kita bersama, merawat bersama agar ia utuh hingga selamanya.
Secara kapasitas, mungkin kita tidak sanggup melakukan hal yang sama seperti pemuda masa lalu, tapi paling tidak,  kita tidak hanya berdiam diri melihat kemajuan bangsa lain di dunia ini.  Mari kita lakukan hal yang bisa kita lakukan untuk kebaikan bangsa ini. Setidaknya, kalau memang tidak sanggup memperbaikinya, jangan sampai kita merusaknya.
Hari ini, kita terlahir di zaman teknologi yang mau tidak mau kita harus siap menghadapinya. Sudah pasti pemuda dituntut aktif dalam mengawal berbagai informasi. Pemuda dituntut untuk melek teknologi, dan menyebar inspirasi untuk kebaikan bangsa. Dengan semangat juang yang tinggi, kita pasti bisa melewati berbagai serangan informasi yang negatif yang mencoba memperkeruh kesatuan bangsa ini.
Saat ini, arus informasi sangat tinggi tanpa filtrasi, masyarakat dengan mudah menerima informasi dengan akses yang sangat cepat melalui koneksi. Namun sayang, dari sekian banyak informasi tidak semuanya layak dikonsumsi, inilah tugas kita saat ini mengawal informasi, menyebar inspirasi melalui tinta dengan semangat kerja bersama antara kita.  Melalui literasi, kita edukasi sejumlah penerus estafet negeri ini dengan kisah-kisah perjuangan nenek moyang kita tentang keikhlasan mereka membentengi kesatuan bangsa ini. Mari kita warnai media sosial Indonesia ini dengan kabar-kabar baik tentang perjuangan, pengorbanan para pelopor kemerdekaan agar semangat gotong royong antar masyarakat semakin kuat, agar asas kebersamaan untuk  membangun Indonesia menjadi lebih baik semakin hebat, dan agar cinta antara kita semakin bergelora dalam mencintai bumi persada nusantara ini.
Dirgahayu Negeriku, Jayalah Indonesiaku !

Syafrizal Elselatany, 15 Agustus 2017
#FLASHBLOGGING KOMINFO 2017



Cahaya Surga Dari Dayah Darul Muttaqin



ACEHLENS.COM - Tiga hari yang lalu, tepatnya pada hari Senin, (29/05/2017). Ratusan anak-anak tak lagi berdiri menghadap arah tiang bendera. Mereka juga tak mengenakan seragam dan sepatu hitam lagi. Penampilan mereka semuanya berubah. Topi yang berlambangkan Tut Wuri Handayani yang biasa di gunakan oleh siswa laki-laki saat mengikuti upacara kini berganti dengan peci hitam. Pakaian merah putih berubah menjadi baju koko dan sarung. Tak hanya itu saja, tas yang dulunya dipenuhi oleh beragam buku pelajaran kini hanya menyisakan sebuah Alquran saja. Tak berbeda jauh dengan siswa perempuan. Mukena putih menjadi penutup tubuh mungil mereka semenjak hari itu.

Tak hanya dari segi pakaian saja. Mereka yang dulunya pergi ke sekolah yang berbeda-beda. Kini harus di satukan di bawah satu atap Balai Pengajian. Dayah Darul Muttaqin. Begitulah nama tempat pengajian yang disematkan oleh pendirinya Tengku Abdullah beserta istrinya Ummi Syukriah Yunus. Tak ada fasilitas seperti kursi dan meja. Tiga balai berwarna putih dan sedikit polesan warna hijau dibagian bawah balai berukuran 8x4 meter persegi tersebut menjadi pelindung tubuh mereka dari sengatan panas matahari dan dinginnya air hujan.

Namun, kurangnya fasilitas tak lantas membuat penghafal quran cilik tersebut tak bersemangat. Walaupun harus duduk beralaskan papan. Pandangan mereka tak luput dari Alquran yang dipangku di atas kedua paha mereka. Mulut berkomat kamit melafadzkan satu persatu ayat yang telah mereka hafal. Secara bergiliran mereka menyetorkan hafalan kepada ustadz yang duduk tepat di depan mereka. Begitulah aktifitas santri Dayah Darul Muttaqin setiap harinya pada bulan ramadhan ini. Meskipun tidak didampingi oleh orang tua selama kurang lebih 25 hari, mereka tetap khusyu’ menghafal Alquran dari setelah salat subuh hingga malam hari setelah salat tarawih.

Pada bulan ramadhan tahun ini. Balai pengajian yang terletak di Gampong Lam Ujong, Kecamatan Baitussalam, Kabupaten Aceh Besar tersebut untuk pertama kalinya menggelar program menghafal Alquran yang bertemakan “Gampong Quran Ramadhan”. Berkerja sama dengan SMP PKPU, program ini sukses melirik ratusan anak-anak yang berasal dari gampong tersebut maupun dari desa tetangga setempat.
“Alhamdulillah. Program pertama ini kita sudah menerima sebanyak 136 Anak. Anak-anak tersebut berasal dari segala umur. Dimulai dari umur 4 sampai dengan 17 tahun,” Ujar Ummi Syukriah pada Acehlens yang berkunjung ke balai pengajian tersebut pada siang kemarin. Rabu,(31/05/2017).

Ummi, begitulah sapaan akrab santrinya. Telah memasang pengumuman tentang Gampong Quran Ramadhan ini sekitar sebulan sebelum Ramadhan. Ia mengakui,  tak lama setelah pengumuman tersebut ditempelkan di beberapa sekolah. Ratusan orang tua langsung mendaftarkan anaknya sebagai peserta penghafal Alquran yang akan berlangsung dari tanggal 28 Mei hingga 23 Juni 2017.

Ummi mengakui dirinya sangat menyayangkan jika balai pengajiannya harus menutup pendaftaran lebih cepat dikarenakan jumlah peserta yang terlalu banyak serta tidak didukung oleh jumlah Ustaz yang memadai.
“Sebelumnya kami semua tidak menduga jika program pertama ini banyak peminatnya. Balai pengajian Darul Muttaqin hanya mempunyai 10 Ustadz. Sebagian dari Ustadz merupakan guru tahfidz di SMP PKPU. Setiap ustadz membimbing 13 anak. Jika kami terima banyak anak, takutnya hasilnya tidak akan maksimal,”Jelas Ummi.

Ummi juga mengatakan jika aktifitas mereka sehari-hari selama berada di Gampong Quran Ramadhan hanya fokus untuk menghafal Alquran saja. Dari setelah salat subuh hingga selesai salat tarawih
“Untuk saat ini. Hafalan anak-anak bervariasi. Ada yang baru 1 juz, ada juga yang sudah 12 Juz. Anak kita yang sudah 12 juz itu bernama Aisya Fadhila,” Jelas Ummi.
“Mereka semuanya nginap di dayah selama kurang lebih 25 hari. Untuk santri lelaki mereka tidur di balai, sedangkan untuk santri perempuan mereka tidur di tiga kamar yang telah disediakan,” Tutup Ummi.

**
Balai pengajian Dayah Darul Muttaqin didirikan pada tahun 2001. Pada saat itu, lokasinya terletak di atas tanah meunasah Gampong Lam Ujong. Setelah Tsunami, Balai pengajian tersebut dipindahkan di samping kediaman Tengku Abdullah dan Ummi Syukriah Yunus. Sejak berdirinya, Balai pengajian ini telah menorehkan beragam prestasi. Di tingkat kecamatan maupun di tingkat nasional. Balai pengajian Darul Muttaqin pernah tercatatat sebagai penghasil penghafal quran dan tilawah terbanyak dari Kecamatan Baitussalam yang menjadikan kecamatan tersebut sebagai juara umum pada Musabaqah Tilawatil Alquran (MTQ) Kabupaten Aceh Besar beberapa tahun silam. Tak hanya disitu saja, enam santri Darul Muttaqin terpilih untuk mewakili Aceh Besar pada MTQ tingkat Provinsi Aceh. Prestasi mentereng lainnya yang berhasil tercatat adalah pernah mengantarkan salah satu santrinya yang bernama Ahmad Rajul Fuzari sebagai juara tiga MTQ Nasional ke 25 yang diselenggarakan di Kota Mataram pada tahun 2016.

Sedangkan untuk lokasinya sendiri, Balai pengajian ini bisa dibilang cukup jauh dari ibu kota Provinsi Aceh. Banda Aceh. Jaraknya berkisar 20 - 25 kilometer dari pusat kota atau bisa ditempuh selama kurang lebih 40 menit dengan menggunakan sepeda motor. Tak perlu takut akan kemacetan. Begitu memasuki Jembatan Krung Cut. Anda tak akan menjumpai lampu lalu lintas lagi. Gampong Lam Ujong terletak diantara Gampong Labuy dan Lamnga. Dayah Darul Muttaqin berada kurang lebih 500 meter dari pintu gerbang Gampong Lam Ujong
  


Kopi Pagi Terakhir


ACEHLENS.COM - Pagi ini. Jalan di kawasan lingkar kampus,Rukoh, Darussalam jauh dari hiruk pikuk kendaraan. Mobil dan sepeda motor yang biasanya memenuhi halaman parkir Warung kopi (Warkop) Dek Mie dan Zakir Kupi kini hanya menyisakan kursi kosong dan sampah plastik yang berterbangan ditiup angin.
Sehari sebelumnya, tepatnya pada hari Jum’at (26/05/2017). Kedua warung tersebut sudah disesaki oleh masyarakat Aceh yang ingin menyeruput secangkir kopi sebelum mereka memulai aktifitasnya. Bahkan, Warkop Dek Mie sudah disesaki oleh penikmat kopi sebelum jam delapan pagi.

Kopi merupakan minuman wajib bagi masyarakat Aceh khususnya kaum Adam. Butiran hitam yang diseduh dengan air panas saat ini menjadi gaya hidup kawula muda dan orang tua. Tidak sah memulai hari tanpa minum kopi. Bahkan Kaum hawa pun mulai tertarik menyerumput minuman yang beraroma khas tersebut.
Ramainya pengunjung di warkop Dek Mie, membuat seorang pria paruh baya berbaju kaos putih dan bercelana coklat datang menghampiri meja tempat kami berkumpul. Ia meminta izin agar bisa duduk di kursi kosong yang berada di depan meja kami. Ia pun langsung memesan kopi pancong dan mencoba menyapa dan membuka obrolan dengan Acehlens

“Sambil nunggu istri belanja di pasar Lamnyong, saya minum kopi dulu. Besok pagi kan dah gak bisa minum kopi lagi karena kita dah puasa,” Ujar Bukhari (52) kepada Acehlens sembari gelak tawa mengakhiri ucapannya.

Bukhari merupakan salah satu pelanggan di warung yang berada di samping Akper Cut Nyak Dhien tersebut. Ia mengakui, saban hari ia tak pernah absen untuk menikmati sajian kopi Ulhe Kareng yang menjadi ciri khas warung itu.

Sembari menghisap sebatang rokok, ia menjelaskan jika masyarakat Aceh seharusnya berbangga diri dengan kekayaan sumber daya alam yang dimiliki oleh provinsi yang mempunyai julukan Serambi Mekkah tersebut. Aceh memiliki dua jenis kopi yang sudah dikenal hingga dunia Internasional.

“Kopi Gayo dan Ulhe Kareng telah mengharumkan nama Aceh sebagai salah satu produsen kopi terbaik di Tanah Air yang merajai 40 persen pasar dalam negeri,” Jelas Bukhari.
Terkait harga secangkir kopi, Bukhari menuturkan jika harga secangkir kopi di Warung Dek Mie cukup terjangkau untuk semua kalangan warga Aceh.

“Untuk kopi pancong yang saya pesan ini harganya tiga ribu rupiah. Sedangkan harga kue seribu rupiah per potongnya. Jadi, lima ribu sudah bisa menikmati secangkir kopi pancong dan dua potong kue. Itu dah cukup sebagai sarapan pagi bagi saya,” Jelas Bukhari.
Waktu menunjukkan pukul 10.17 WIB. Telepon genggam berwarna putih yang ia letakkan di atas meja berdering. Nama “Mama” tertulis dari balik layar kuningnya. Lantas Bukhari pun mengangkat panggilan itu.

“Awak inong lon. Menyo ka belanja. Leupah trep. Kakeuh man, leuh uro raya ta meurumpok lom (Istri saya kalau belanja lama sekali. Ya sudah, nanti setelah lebaran kita berjumpa lagi,” jelasnya sembari memanggil pelayan warkop tersebut. Setelah membayar, Bukhari pun bergegas memacu sepeda motornya menuju ke arah pasar Lamnyong, Rukoh, Darussalam.



Tatha Rayhan, Kisah Film Sang Pemimpi Di Dunia Nyata

Tatha Rayhan, Kisah Film Sang Pemimpi Di Dunia Nyata


"Masa muda. Masa yang berapi-api." 
Ucap pria berambut gimbal,bersegaram putih abu-abu yang berdiri di tengah ruangan kelas yang berukuran 4x4 meter persegi.

Ungkapan yang dikutip dari penggalan lirik lagu karya Rhoma Irama ini mendadak membuat seisi ruangan kelas yang berada di salah satu sekolah di Bengkulu Timur ini dengan penuh tawa. Bahkan, sebagian dari siswa memukul meja sembari memegang perutnya. Pria tersebut adalah Viki Setiawan. Pemeran tokoh "Ikal" di dalam film yang berjudul "Sang Pemimpi". 

Film yang disutradarai oleh Riri Riza ini menceritakan tentang dua anak dari Bengkulu Timur yang mempunyai cita-cita melanjutkan pendidikannnya hingga ke Negara Menara Eifel. Francis. Arai dan Ikal menjadi tokoh utama di dalam film yang diproduseri oleh Mira Lesmana ini.
Beragam tantangan dilewati oleh mereka berdua untuk melanjutkan pendidikannya. Dimulai dengan menjadi kuli pembawa ikan hingga menjadi salah satu pegawai di kantor pos.


Sempat putus asa di karenakan kepergian sahabatnya. Arai,yang diperankan oleh Ariel Noah. Membuat ikal menguburkan impiannya ke Francis. Namun,semangatnya kembali bangkit kala ia mengingat usahanya sedari SMA. Ia pun kembali berjuang.

" Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak". Ikal dan Arai pun kembali dipertemukan sebagai salah satu peserta yang berhasil lulus untuk menempuh pendidikan di Negara Perancis.

Tatha Rayhan, Kisah Film Sang Pemimpi Di Dunia Nyata

Cerita fiksi karya Andrea Hirata ini tidak hanya terjadi di dunia mimpi. Tapi juga terjadi di kisah nyata. Adalah Tathahira dan Rayhan Izzati Basith. Sepasang sahabat karib yang berteman walaupun mempunyai latar belakang budaya yang berbeda. Tathahira merupakan pria yang lahir dari kota naga,Tapak Tuan,Aceh Selatan. Sedangkan Rayhan merupakan wanita yang lahir di Ibu kota Aceh,Banda Aceh.

Lulus sebagai Mahasiswa Tarbiyah English(TEN) pada Fakultas Tarbiyah UIN Ar-Raniry pada tahun 2010 menjadi awal perkenalan mereka. Latar belakang penguasaan Bahasa Inggris yang cukup handal membuat mereka cukup dikenal di kalangan mahasiswa TEN lainnya.

Noufrizal,salah satu teman seletingnya mengatakan jika pribadi Tathahira dan Rayhan ini merupakan panutan bagi teman-teman lainnya. 
"Mereka berdua diibaratkan seperti pinang yang dibelah dua. Sama-sama mempunyai pikiran yang cerdas dan sangat berambisi untuk mewujudkan keinginannya."


Tatha Rayhan, Kisah Film Sang Pemimpi Di Dunia Nyata
Rayhan & Tatha di Autralia | Photo via Instagram


Kuliah di dua kampus yang berbeda,sempat membuat mereka tidak akrab di karenakan harus berpindah unit. Selain menempuh pendidikan Bahasa Inggris di UIN Ar-Raniry,Tathahira juga pernah tercatat sebagai Mahasiswa Fakultas Ekonomi Jurusan Akutansi Unsyiah sedangkan Rayhan mengambil konsentrasi Pendidikan Bahasa Inggris di Unsyiah. Namun,di karenakan beberapa alasan. Tathahira memilih untuk fokus kuliah di kampus UIN Ar-Raniry.

Memasuki semester tujuh pada tahun 2013. Himpunan Mahasiswa Jurusan(HMJ) Bahasa Inggris atau lebih dikenal dengan sebutan EDSA(English Department Student Assosiation) melakukan sayembara pemilihan Calon Ketua HMJ Bahasa Inggris (lebih dikenal dengan sebutan Presiden Edsa). Sayembara yang dipimpin langsung oleh Presiden Edsa periode 2012-2013,Khairul Azmi. Ini melahirkan dua calon presiden dari leting 2010. Wildan Sani Rasyid dan Tathahira. 

Setelah ditunjuk sebagai calon,Wildan dan Tathahira secara bergantian memasuki seluruh ruang kelas mahasiswa Bahasa Inggris. Visi misi diutarakan oleh mereka berdua. Tak lama setelah itu,pemilihan calon presiden pun dilaksanakan. Wildan terpilih sebagai Presiden Edsa dan Tathahira sebagai Sekretaris Jenderal(Sekjen) Edsa. Tak hanya mereka berdua,Rayhan Izzati Bassith dipilih sebagai Bendahara Edsa.

Intensitas pertemuan yang terlalu sering di ruang EDSA sejak dipercayakan menjadi pengurus. Membuat hubungan Tathahira dan Rayhan menjadi sangat dekat. Tak ayal banyak orang yang menganggap mereka telah menyatukan jalinan kasih mereka di dalam satu ikatan yang lebih serius.
"Mereka dulu cukup dekat. Saya sangat setuju jika mereka menjadi sepasang kekasih. Mereka pasangan yang saling melengkapi" ujar Noufrizal.
Tak lama memangku jabatan penting di organisasi mahasiswa,mereka terpaksa harus disibukkan oleh Program Praktik Lapangan(PPL) dan Kuliah Pengabdian Masyarakat(KPM) Kesibukan ini sempat membuat intensitas pertemuan mereka menjadi jarang.

Sepulangnya dari KPM. Kisah kasih mereka kembali terajut. Skripsi membuat mereka menjadi pelanggan tetap di sudut kantin Aljami'ah UIN Ar-Raniry. Sayangnya,Tathahira tak seberuntung Rayhan. Rayhan berhasil menyelesaikan gelar Sarjana Pendidikan Islam pada tahun 2014 dan berhasil meraih gelar mahasiswa bahasa inggris terbaik.

"Pembimbing saya dengan Tatha sama. Kami susah tuk jumpai pembimbing,makanya Tathahira tidak menyelesaikan skripsinya." Kata Noufrizal. 

Pada bulan Februari 2015,Tathahira pun berhasil menyamai gelarnya dengan Rayhan. Selain itu,ia juga terpilih sebagai Mahasiswa Terbaik TEN pada wisuda yang dilaksanakan di penghujung bulan Februari tersebut.

Setelah lulus,mereka tak lantas berdiam diri. Melanjutkan pendidikan keluar negeri menjadi cita-cita. Beragam jenis beasiswa pun mereka ikuti. Tekanan yang cukup kuat sempat membuat Tathahira menjadi surut. Namun,semangat yang diberikan oleh Rayhan membuat Tatha menjadi kembali termotivasi.

Alhasil. Alumni Terbaik TEN ini pun berhasil lulus beasiswa LPDP dan berhak melanjutkan master di Monash University,Australia. Tathahira mengambil konsentrasi Master of Education of Digital Learning dan Rayhan mengambil konsentrasi Master of Applied Linguistic.
Tatha Rayhan, Kisah Film Sang Pemimpi Di Dunia Nyata
Photo Via Instagram | Jangan Baper Baca Captionnya YA.


Pada tahun 2016 Tathahira pun mengikat Rayhan dalam ikatan suci pernikahan. 
"Segeralah berkarya,jangan lalai akan hal-hal yang sia sia. Berbakti kepada orang tua dan menjadi manusia yang bermanfaat terhadap manusia lainnya. Tetap menjadi "down - to - earth" person,karena orang yang pintar banyak,so just be yourself. Di atas langit masih ada langit." Pesan Tatha untuk pemuda Aceh. 

Tak mau kalah dengan suaminya,Rayhan juga mengajak seluruh pemuda Aceh agar jangan malas dam tidak duduk di warung kopi tanpa tujuan yang jelas. 
"Yang paling penting,taat kepada Allah dan berbakti kepada orang tua. Karena semua kesuksesan yang akan dicapai berkat doa orang tuamu yang dikabulkan oleh Allah."Tutup Rayhan.

Semoga cerita mereka berdua dapat menginpirasi anak muda Indonesia, dan ini salah satu bukti The of Power of Nikah Muda. Rezeki Allah selalu terbuka bagi mereka yang berusaha. Mereka  dapat dihubungi via Instagramnya instathahira dan rayhanbasith
____________
Writer : Nofrizal, Kontributor  acehlens.com ,Mahasiswa MJC XIII, Alumni TEN 2010
Editor : Syafrizal Elselatany

Menikmati Sensasi Levitasi di Queen Bay Pulau Kapuk

Asiiikk.... Berfoto di Pantai ini Bisa Terbang-Terbang, Coba Aja !
Anda suka foto terbang-terbang? Mungkin ini salah satu tempat recommended untuk kamu kunjungi.
Sore itu saya mengunjungi bumi perkemahan pramuka yang dilaksanakan oleh Gerakan Pramuka Pesantren Aceh untuk seluruh santri se-Aceh di salah pantai di kawasan Lhoknga Aceh Besar. Sebenarnya ini kali kedua saya berkunjung ke pantai eksotis ini, sayangnya dengan waktu yang terbatas, jadi tidak sempat saya jelajahi semua segala keindahan yang terkandung didalamnya.
BACA JUGA : 

Kenalkan ! Azis Muhajir, Jubir Muda Partai Aceh Yang “Mẻsyuhu” Bansigom Aceh Jaya

Pantai yang terletak di kecamatan Lhoknga Aceh Besar ini bernama Pantai Pulau Kapuk. Bagi masyarakat Banda Aceh dan sekitarnya, apalagi kawula muda mungkin sudah tidak asing lagi dengan pantai ini, selain jaraknya yang mudah dijangkau, tempatnya juga lumayan asri karena dipenuhi oleh pohon cemara, bahkan orang-orang sering menyebutnya dengan pantai cemara.  Untuk masuk ke kawasan pantai ini kamu cukup membayar uang tiket masuknya berkisar 3 rb – 5rb/orang. Kalau saya gratis saat itu, kebetulan ga ada orang jaganya, #alhamdulillah.
Kini, Pantai tersebut semakin dikenal dengan Queen Bay atau Pantai Ratu
Asiiikk.... Berfoto di Pantai ini Bisa Terbang-Terbang, Coba Aja !
Queen Bay, Photo : wulanafriyanti.blogspot.co.id
Kini pantai tersebut makin dikenal luas oleh masyarakat, seiring adanya Queen Bay (Pantai Ratu atau Pantai Romantis). Queen Bay adalah berupa fasilitas tempat berteduh dan berfoto yang disediakan oleh pengelola pantai untuk menarik perhatian masyarakat khususnya muda mudi. Dengan konsep yang menarik dibaluti oleh tirai-tirai berwarna pink sehingga berkesan romantis.  Disini juga disediakan photoboot bagi yang ingin berfoto, bahkan tak jarang para fotografer menggunakan tempat ini sebagai foto pra wedding ataupun hunting biasa.
Queen Bay ini hadir sejak setahun terakhir, yang merupakan cabang pantai romantis (Romance Bay) Perbaungan, Medan, Sumatera Utara. Untuk masuk ke area Queen Bay ini anda dikenakan biaya, harganya saya kurang tahu, karena kebetulan watu itu saya  masuknya gratis, karena dianggap panitia pramuka saat itu. #Alhamdulillah sekali lagi.  Tapi yang saya dengar-dengar sekitar 35 rb /orang dan 60 rb perkelompok ( harganya dapat berubah-rubah, tergantung kemurahan hati si abang-abang dan si mbak-mbak yang jaga kayaknya). Melihat dari segi harga memang tergolong mahal, tapi jangan salah, kepuasan batin akan kamu dapatkan disini. Selain itu, kamu juga di hadiahi satu minuman ringan dan snack. Menurut amatan saya, mengenai harga tidak terlalu dipertimbangkan oleh pengunjung, karena memang tempatnya sangat menarik hati untuk disinggahi.
Asiiikk.... Berfoto di Pantai ini Bisa Terbang-Terbang, Coba Aja !
lihat, ada perahu yang sedang melintas

Bagi kamu yang bawa pasangan yang belum halal, jangan coba-coba bawa ikut setannya ya #upss, tempatnya memang sangat romantis dan sedikit tertutup dengan tirai-tirai pink disertai bunga-bunga hiasan. Bahkan juga disediakan bantal untuk bersandar dan berteduh sambil menikmati hamparan laut yang luas. Untuk menghindari hal-hal yang dapat mengotori pantai, pihak pengelola tak segan-segan menasehati atau menegur kalau ada pengunjung yang coba-coba mencari kesempatan dalam kesepian, bahkan disitu dilengkapi dengan tempelan ayat Al Qur’an untuk mencegah kedatangan setan-setan yang terkutuk. Tapi bukan itu yang ingin saya katakan, kunjungilah pantai ini dengan tujuan yang positif, hormati kearifan lokal, dan ini juga berlaku di tempat-tempat lain.
BacktoMainIdea#
Serunya Berlevitasi Disini, Bisa Berfoto Terbang-Terbang Gitu, Ga Percaya ?
Asiiikk.... Berfoto di Pantai ini Bisa Terbang-Terbang, Coba Aja !
Alhamdulillah lewat. kalau gak uda habis tripod ini
Bagi kamu yang suka berfoto terbang-terbang atau istilah kerennya Levitasi pasti akan terus mencari sensasi baru dengan lokasi yang berbeda-beda. Nah, tidak salah kalau kamu coba Pantai Pulai Kapuk Lhoknga sebagai tempat levitasi barumu sambil menunggu terbenamnya matahari.

Hamparan laut yang luas nan biru menjadi daya tarik sendiri berlevitasi disini, bahkan pabrik semen  LCI (Lafarge Cement Indonesia) Lhoknga dari jauh menjadi background yang tak perpisahkan dengan foto levitasimu.

BACA JUGA : 

Untuk memperindah hasil levitasimu, carilah moment yang pas, misalnya saat ada perahu nelayan sedang melintasi atau saat siluet sedang menyala. Dijamin, foto levitasimu keren sejagat raya. Usahakan foto levitasimu sedramatis mungkin, tetap harus indah layaknya foto levitasi. Untuk teknik pengambilannya silakan dibaca saja di google atau tutorial yang banyak tersedia di youtube.

Asiiikk.... Berfoto di Pantai ini Bisa Terbang-Terbang, Coba Aja !
Jangan Ajak Levitasi Kawan yang punya berat badan lumayan. seperti yang disamping kami ini. 

Akan lebih seru lagi kalau foto levitasimu secara berjama’ah. Dan usahakan diajak teman-teman yang lumayan luntur, jangan yang kaku, biar mudah terbangnya. Biar foto levitasimu lebih berkelas, bukan hasil editan photoshop. Kemudian, carilah pohon atau batang kayu yang seakan-akan kamu terbang dengan batang kayu tersebut, atau juga bisa berlevitasi dengan fighting drama seperti yang kami lakukan saat itu.

Asiiikk.... Berfoto di Pantai ini Bisa Terbang-Terbang, Coba Aja !
Levitasi atraksi fighting.

Lebih jelasnya, silakan kembangkan lagi atraksi-atraksi levitasi lainnya yang banyak tersedia contohnya di media sosial, biar makin hari foto levitasinya semakin professional. Dan jangan lupa untuk mempublikasi foto-foto levitasimu di media sosial, kalau kamu upload di instagram jangan lupa gunakan hastag yang ada #levitasinya, biar foto levitasimu dikenal luas, karena kalau di instagram lebih mudah dilacak foto-foto yang bersangkutan kalau meggunakan hastag, kita juga bisa melihat, mempelajari foto levitasi lainnya yang telah dilakukan oleh orang-orang sebelumnya.

Nah, tunggu apa lagi, ayo kemari untuk berlevitasi !



#sekian

___________________________
#Tentang Pulau Kapuk Lhoknga
  • Pantai Pulo Kapuk juga dikenal Pantai Cemara Lhoknga.
  • Terletak di Kec. Lhoknga, Aceh Besar. Ada papan penunjuk di tepi jalan nasional Banda Aceh-Calang, tengok kanan setelah melewati jembatan baja pertama dari Banda Aceh, sebelum mencapai Pantai Lhoknga (depan pos Panser TNI Lhoknga).
  • Tiket masuk Rp 3.000 per orang. Bebas biaya parkir. Tarif ini mungkin saja berubah sewaktu-waktu.
  • Fasilitas umum antara lain kantin, kuliner ikan bakar, gazebo di tepi pantai, pondok-pondok di tepi Kuala Krueng Raba.
  • Di Kuala Krueng Raba, Anda bisa naik perahu bebek dan mancing.
  • Di Pantai Pulo Kapuk, Anda bisa mandi jika arus tak kencang, menanti sunset, santai dengan hidangan kelapa muda, surfing di musim tertentu, dan melakukan kegiatan piknik lainnya.
  • Dikutip dari : safariku.com
BACA JUGA : 

Cot Goh, Wisata Religi Di Aceh Yang Bikin Hati Jadi Sejuk Dan Tentram