lhoknga,

Sisi lain dari Taman Tepi Laut Lhoknga Yang Jarang Diketahui

November 18, 2016 Kasel 0 Comments

Sisi lain dari Taman Tepi Laut Lhoknga Yang Jarang Orang Ketahui
bekas kolam Taman Tepi Laut | Photo : AcehLens
Sebenarnya ini merupakan cerita lama yang saya simpan pada medio Mei 2015 silam. Saat saya mengabadikan foto postwedding teman saya di Taman Tepi Laut Lhoknga. Kemudian beberapa foto saya upload ke instagram pribadi yang sempat di repost oleh beberapa akun instagram wisata Aceh yang aktif mempromosikan berbagai tempat wisata di Aceh.
Untuk warga Banda Aceh dan Aceh Besar mungkin taman tepi laut Lhoknga sudah tidak asing lagi untuk dikunjungi. Wisata yang indah dengan hamparan laut dan riak gelombang ini bisa ditempuh sekitar -+22 kilometer dari Banda Aceh. Selain untuk wisata keluarga, di hari minggu misalnya atau hari libur, taman tepi laut juga kerap di kunjungi oleh para fotografer sebagai spot yang indah untuk mengabadikan gambar postwedding atau hunting biasa.
Selain mudah dijangkau, tempat ini juga membawa pesona tersendiri. Pantai yang indah kemudian di hiasi dengan pohon cemara yang berjejer rapi di pinggir pantai. Juga tidak sedikit dari warga terutama kalangan anak muda yang betah berlama-lama di taman tepi laut ini untuk mengintip tenggelamnya matahari sore.
Disini juga tersedia makanan ringan yang bisa anda santap, seperti kelapa muda atau mie rebus dan sebagainya. Salah satu cafe yang ada disitu merupakan pemilik lahan taman tepi laut tersebut. Selain itu, anda juga bisa beristirahat di pondok-pondok kecil di pinggiran laut sambil merasakan semilir angin sepoi-sepoi dan mendengar suara desiran ombak yang menghempas karang. Eitss tapi jangan bermaksiat ya #upss

Nah, saat ini tempat tersebut sudah dibagikan menjadi dua tempat yang ditandai dengan pagar tergembok. Disitu pemandangan yang ditawarkan pun berbeda, selain tempatnya yang  luas, disitu juga banyak spot dengan rumput ilalang yang begitu indah untuk dijadikan sebagai background pengambilan foto.
Dikawasan ini memang tidak ada pondok-pondok kecil yang disediakan, tapi pemandangan pinggiran laut yang penuh dengan karang menjadi ketertarikan sendiri memilih memasuki kawasan yang dispesialkan itu.
Untuk memasuki kawasan tersebut tidaklah mudah. Anda harus mengeluarkan kocek sekitar 50.000 rupiah (saat itu kami masuknya berempat untuk keperluan pengambilan foto postwedding). Untuk harga tidak ada yang baku, karena menurut cerita teman-teman, harga yang dipatok untuk memasuki kawasan yang terpagar tersebut berbeda-beda. Kayaknya tergantung kemurahan hati nurani sang pemilik dan jumlah orang nya. #haha
Yang ingin saya ceritakan disini adalah bukan taman tepi laut yang terlihat dimata saat anda berada disana. Tapi ini cerita sisi lain dari taman tepi laut yang kawasannya itu dilarang keras memasukinya.
Menurut analisa saya tempat ini jarang kunjungi oleh orang atau bisa jadi memang tidak diketahui kecuali orang sekitar dan orang-orang yang menerobos seperti kami saat itu. #upss. Sulit diketahui karena tempat ini juga dipagar kawat, tersembuyi dengan pohon danbukit dan tidak bisa kita masuk sembarangan. Beberapa kali saya ke taman tepi laut memang jarang saya lihat orang yang pergi ke arah tersebut.
Sisi lain dari Taman Tepi Laut Lhoknga Yang Jarang Orang Ketahui
maklumin aja, baru belajar motret wedding | acehlens
Singkat cerita. Hari itu saya mendapatkan job foto postwedding. Kebetulan pengantin pria yang saya potret saat itu orang Lhoknga tulen. Setelah saya abadikan beberapa gambar dikawasan yang tergembok tadi, terutama di pinggir laut, kemudian di karang laut yang ada desiran ombaknya juga di bawah pohon pinus dan rumput ilalang.
Disela-sela pengambilan gambar tadi, kemudian saya melihat pohon pinus yang sudah kering daunnya menjadi kuning. Saat itu saya bilang sama pengantin prianya. Kayaknya dibawah pohon itu bagus gambarnya, karen a daunnya alami menguning layu. Tapi gimana kita masuk kesana, karena terpagar kawat.  Rupanya si pengantin pria tertarik dengan keinginan saya tadi. Saya tahu ini pasti kawasan yang dilarang. Saya pun mengurungkan niat untuk mengambil gambar disitu. Ternyata si pengantin pria begitu bernafsu agar mereka bisa berfoto dibawah pohon tersebut. Akhirnya si pengantin nekat untuk menerobos, saat itu saya merasa sedikit takut, tapi kawan saya (yang membantu saya pengambilan gambar) orangnya lumayan nekat dan rasa keponya tinggi. Akhirnya saya pun memberanikan diri untuk menerobos diikuti juga oleh pengantin wanitanya.
Sisi lain dari Taman Tepi Laut Lhoknga Yang Jarang Diketahui
penampakan pohon cemara yang sudah layu | photo : acehlens
Sesampai kami disitu terlihatlah beberapa spot lainnya. Kemudian saya abadikan beberapa gambar dibawah pohon cemara menguning layu tadi. Sikawan yang membantu saya tadi langsung menjelajahi kawasan tersebut. Wah, ternyata dibalik gunung yang indah yang tertutup di penuhi pohon dan terpagar kawat tadi ada keindahan yang luar biasa. Itulah taman tepi laut sebenarnya.  Pemandangan yang luar biasa, begitu takjub saya melihatnya saat itu. Takjub karena baru melihatnya, ternyata ini yang namanya taman tepi laut sebenarnya. Bebatuan yang indah dan hamparan laut yang begitu mempesona sudah terlihat didepan saya. Disitu juga ada bekas kolam renang yang jaraknya sangat dekat dengan laut. Tidak berlama-lama saya langsung mengambil beberapa gambar untuk pengantin tadi, ternyata kawan saya tadi juga tidak mau ketinggalan, dia juga meminta untuk diabadikan gambarnya dengan beberapa gaya yang exotic. Setelah pengambilan gambar untuk pengantin, kami pun beristirahat sejenak sambil melihat keindahan alam yang tidak kami ketahui sebelumnya. Saya pun minta difoto disitu dengan background bekas kolam renang dan laut yang luas.
Sisi lain dari Taman Tepi Laut Lhoknga Yang Jarang Orang Ketahui
ini dia penampakan dibalik gunung taman tepi laut | photo : acehlens
Singkat cerita. akhirnya disaat kami sedang bersantai datanglah seorang lelaki yang berkumis dan nampaknya sedikit garang. Wah, saya sempat takut saaat itu. Saya perhatikan ke lelaki tersebut, apa ada parang atau benda apa dibawanya.  Ternyata tidak ada. Dia mulai menyapa kami. Saat dia bicara ternyata orangnya tidak garang. Dia menegur kami kenapa melanggar batas teritorial. Dengan lugunya kami memberi alasan seperti anak kecil ; kami tidak tahu pak , kami pikir bisa masuk tadi. Ternyata bapak ini suruhan ibu pemilik kafe tadi. Katanya ibu sudah marah, karena kalian melanggar dan kalian akan di denda nantinya sembari menyuruh kami untuk balik ke tempat yang diperbolehkan tadi. Kami pun merasa tidak enak dengan si bapak, sambil pulang kami pun mencoba mencairkan suasana dengan berbasa basi menanyakan sekilas tentang bekas kolam tersebut. Eh ternyata si bapak orangnya pendiam dan terkesan cuek. Ia enggan menjawabnya. Mungkin karena dia kesal karena ulah kami. #maafkan kami pak ! gak ulangi lagi, swear?
Sisi lain dari Taman Tepi Laut Lhoknga Yang Jarang Orang Ketahui
bebatuan yang indah menarik untuk berfoto disini | photo : acehlens
Akhirnya kami pun bergegas pulang. Karena foto untuk postwedding pun sudah cukup. Kami pun kembali ke cafe tadi. Pengantin pria langsung menghampiri kasir untuk membayar makanan dan minuman sekaligus uang masuk ke kawasan terpagar gembok tadi. Eh ternyata si ibu pemilik kafe memarahi si pengantin pria tadi sambil meminta uang denda sebanyak 150.000 rupiah (wow, fantastis). Si pengantin pria pun terkejut dengan jumlah uang denda tersebut. Sempat adu mulut beberapa menit dengan si ibu yang tidak mau menurunkan harga denda, akhirnya si pria merayu si ibu dengan mengatakan bahwa ianya juga orang Lhoknga sambil meminta maaf. Kami khilaf, dan bla bla yang akhirnya si ibu luluh hatinya menurunkan harganya. Si ibu pun deal uang denda dibayar sebanyak 50.000 rupiah. Bagi saya si ibu marah tadi wajar karena kami melanggar batas. Sebenarnya sebelum kami masuk ke kawasan tadi tidak ada pemberitahuan khusus bahwa dilarang keras masuk ke kawasan yang dipagari kawat tersebut. Yang namanya orang Aceh itu (sebahagian) , peraturan tidak cukup dengan simbol, yang tertulis saja masih dilanggar, bahkan yang disampaikan via lisan plus tulisan pun masih berani dilanggar. #haha
Baca Juga : 

Kalau Kamu Ke Aceh Selatan, Jangan Lupa Mampir Disini, Ada Jus Nipah Pertama di Indonesia

Tidak banyak yang saya ketahui mengenai tempat yang kami langgar tersebut, karena saya tidak berani lagi mengorek informasi kepada si ibu pemilik cafe dan lahan tersebut. Tapi menurut cerita dari kawan-kawan saya dari Lhoknga (belum tentu akurat), dulunya sebelum tsunami ada hotel disitu. itulah taman tepi laut sebenarnya. Setelah tsunami menghantam Aceh 2004 silam, hotel tersebut otomatis hancur lebur karena memang jaraknya sangat dekat dengan laut. Makanya si ibu pengelola cafe memilih untuk menguburkan kenangan hotelnya dengan memagari kawasan tersebut. Dan menjadikan lahan taman tepi laut saat ini sebagai tempat barunya.

Sekian !

You Might Also Like

0 komentar: