Human Interest,

Kenalkan ! Azis Muhajir, Jubir Termuda Partai Aceh yang “Mẻsyuhu” Bansigom Aceh Jaya

Januari 22, 2017 Unknown 0 Comments

Kenalkan !  Azis Muhajir, Jubir Muda Partai Aceh yang “Mẻsyuhu”  Bansigom Aceh Jaya
Tampan dan menawan. Tegas dan lugas. Keras tetap santun. Itulah sekilas yang bisa saya gambarkan terhadap sosok pemuda yang berasal dari nanggroe daya ini. Namanya Azis Muhajir (bukan nama samaran), biasa dipanggil Azis.
Saya sendiri baru mengenalnya pada medio tahun 2015 di salah satu kampus jurnalistik di Kota Banda Aceh—Muharram Journalism College nama kampusnya. Sosok Azis dalam kesehariannya  terlihat sedikit lugu saat itu—ditambah lagi dengan gaya bicaranya ceplas ceplos—tapi tidak asal bicara, berdasarkan data dan fakta. Dia terpilih jadi ketua angkatan kami saat itu. Keaktifannya dalam berbicara di forum menjadikannya terkenal saat itu—apalagi saat masuk mata kuliah umum yang diskusinya menyinggung politik—dia terlihat sangat aktif mengangkat tangan untuk menyampaikan pendapat—dengan gaya bicara apa adanya—tidak  jarang kami terhibur dan tertawa dengan ekpresi bicara dan guyonannya.
Awalnya, saya pribadi tidak terlalu akrab dengan pak ketua (panggilan akrab kami), wajar—karena kami berbeda kelas saat itu, saya kelas televisi, dia kelas media cetak—sudah pasti jarang bertatap muka, kecuali saat mata kuliah umum. Hari demi hari kamipun lumayan akrab—warung kopi salah satu wadah menjalin silaturahmi antara kami setelah wisuda. Singkat cerita—semakin  hari semakin dekat dan selalu menyapa.
Azis Muhajir, di usianya tergolong masih muda—pria kelahiran Tuwi Kareung Panga 27 Juni 1991 ini terbilang sukses, hal itu dibuktikan dengan kegigihannya dalam berkarya dan menyelesaikan pendidikannya. Tahun 2013 dia berhasil menyelesaikan pendidikan strata satunya di Fakultas Ushuluddin Jurusan Aqidah Filsafat UIN Ar Raniry Banda Aceh—di tahun yang sama ia melenggang ke pasca sarjana di kampus yang sama—dan  selesai pada tahun 2016 sekaligus menamatkan pendidikan diploma ilmu jurnalistiknya.
Judul thesisnya "Pemikiran Politik Hasan Tiro Tentang Negara Federasi“ dari judul tersebut menunjukkan siapa Azis Muhajir sebenarnya. Mantan Sekretaris Komite Mahasiswa Pemuda Aceh (KMPA) Aceh Jaya ini merupakan penggemar sosok Hasan Tiro—bahkan lebih dari itu. Darah perjuangan rakyat aceh yang dipelopori oleh anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM) saat itu mengalir kencang pada dirinya.
 Kekagumannya pada sosok Hasan Tiro dan kegigihannya dalam belajar sejarah Aceh mengantarkannya menjadi Juru Bicara Partai Aceh Wilayah Aceh Jaya. Pemikiran politiknya pun hari demi hari semakin berkembang. Orang-orang besar di Partai Aceh pun menjadi sahabatnya—bahkan lebih dari itu. Wajar—karena ia seorang pembelajar dan sangat menghargai perjuangan para pejuang naggroe indatu. Safriantoni atau yang lebih dikenal dengan Pang Toni sebagai Ketua DPW Partai Aceh Wilayah Aceh Jaya  terlihat sangat akrab dengan sosok Azis—menurut pengamatan saya pribadi, dimana ada Pang Toni disitu ada Muhajir—begitulah kira-kira gambarannya. Kedekatan sang ketua dengan jubir memang harus—karena buah pikiran sang ketua, pendapat, statement merupakan tugas sang jubir yang menyampaikannya.
Kenalkan !  Azis Muhajir, Jubir Muda Partai Aceh yang “Mẻsyuhu”  Bansigom Aceh Jaya
Azis Muhajir Bersama Petinggi Partai Aceh DPW Aceh Jaya
Eksistensinya sebagai Jubir Partai Aceh Nanggroe Daya  pun “dithe” dan mensyuhu bansigom Aceh Jaya. Siapa yang tak kenal dengan Azis Muhajir di Aceh Jaya? Ini yang ingin saya katakan. Ia kerap hadir mendampingi kemanapun Panglima Aceh Jaya (Pang Toni) pergi—terjun ke masyarakat—berpartisipasi dan berbaur—bahkan disaat dia masih berada di Kota Bunda Madani (Banda Aceh), ia kerap pulang pergi jika ada kegiatan partainya. Jarak Banda Aceh-Aceh Jaya tidak melunturkan kesetiaannya pada partai yang membesarkan nama Aceh tersebut.
Selain itu, wajahnya kerap terpampang di media-media, baik cetak maupun media online—yang jelas bukan menjual tampang, karena tampangnya yang lumayan tampan nan menawan ini sudah terjual (sold out). Tapi ia muncul menghiasi media-media dengan statement “tegasnya” tentang kebijakan, pernyataan, dan keputusan yang berhubungan dengan Partai Aceh DPW Aceh Jaya. Bahkan, ia tak jarang nongol di koran dengan statement “pedas” menghantam sang lawan yang mencoba menyerang partainya. Dia memang bukan ahli propaganda media, tapi ia memahami  setiap propaganda yang diciptakan oleh lawannya di media-media. Dia seorang pembelajar—kerap mempelajari setiap taktik tarian politik yang sedang dimainkan di Aceh. Kecakapan dan kecerdasan seorang jubir memang sangat dituntut, ia harus lebih tahu masalah dari pada yang lain, memperkaya wawasan dan pengetahuan untuk menghadang serangan lawan. Keuletannya belajar jurnalistik menjadikannya dengan mudah melawan berita dari lawan, dan permainan politiknya pun lumayan sulit dibaca oleh lawan.  
Kenalkan !  Azis Muhajir, Jubir Muda Partai Aceh yang “Mẻsyuhu”  Bansigom Aceh Jaya
Suatu ketika bersama Azis Muhajir di salah satu warkop di Kota Bunda
Dalam sebuah perbincangan di salah warkop di Pusat Kota Banda Aceh sekitar 4 bulan yang lalu (terhitung mulai tulisan ini dipublikasikan) , saya bertanya kepada Mantan Ketua IPELMAPA ( Ikatan Pelajar Mahasiswa Kecamatan Panga Aceh Jaya)  ini tentang sebesar mana kecintaanya terhadap Partai Aceh. Bahkan saya sendiri tak jarang melempar “bola panas” dalam diskusi jama’ah di warkop dengan teman-teman yang lain—tentang kekurangan dan gunjingan orang-orang terhadap partainya. Tujuan saya jelas ingin menguji dan melihat sejauh mana kedewasaan sosok Azis menjawab dan menyelesaikan setiap masalah. Terbukti, dia sangat mahir menguraikan dan menjabarkan setiap jawaban atas permasalahan yang orang-orang sering bicarakan. Jujur, saya sangat terkesima dengan paparannya. Dan dari diskusi kecil-kecilan tersebut, saya bisa menyimpulkan bahwa kecintaannya terhadap Partai dibawah Komando Mualem, Muzakir Manaf ini begitu besar . Bagi saya, masyarakat Aceh Jaya patut berbangga dengan kehadiran sosok pemuda tampan dan inspiratif seperti Azis Muhajir ini. Paling tidak, pemuda-pemuda lain bisa terinspirasi dan megikuti jejaknya. Memang, manusia ada lebih kurangnya—tak dapat dipungkiri bahwa pada diri Azis Muhajir pasti ada kelebihan dan kekurangan. Ambil yang baiknya dan tinggalkan sisi jeleknya—karena Azis Muhajir pun masih dalam proses perjalanan menuju pemuda impian masyarakat Aceh bansigom donya. Dan berikut ini penyataanya terhadap Partai Aceh saat saya ajukan pertanyaan, kenapa Azis Muhajir memilih Partai Aceh sebagai rumah politiknya.

 “Setelah sekian lama Aceh dilanda konflik bersenjata kemudian mulai digagas proses perdamaian, hingga akhirnya dicapai kesepakatan damai di Finlandia pada tanggal 15 Agustus 2005. Nota kesepahaman Mou Helsinki menjadi akhir dari perjuangan panjang pemberontakan Gerakan Aceh Merdeka, haluan politik GAM berubah drastis dari politik senjata ke politik kotak suara.
Pasca perjanjian damai Mou Helsinki, tanggung jawab GAM belum berakhir, ada banyak puing-puing konflik yang masih tersisa. Seperti anak yatim dan janda-janda korban konflik yang mungkin belum semuanya tersentuh oleh pemerintah Aceh.
GAM juga harus bertanggung jawab terhadap realisasi poin-poin Mou Helsinki. Hanya sekedar mengingatkan kembali bahwa saat perundingan tersebut GAM hadir atas nama rakyat Aceh. Dan hari ini kalkulasi politiknya sangat sederhana, jika GAM gagal meyakinkan Republik Indonesia terhadap implementasi Undang-Undang Pemerintahan Aceh maka penipuan politik jilid II kembali dirasakan rakyat Aceh.
Setelah ikrar damai tersebut, ada banyak kajian konflik yang dihasilkan oleh para peneliti, seperti yang diungkapkan oleh Jason peneliti dari Dartmouth College, Hanover, Amerika Serikat. Dirinya mengatakan meskipun Aceh berstatus otonomi khusus, namun nyatanya, hingga saat ini hak-hak Aceh sebagai daerah otonom masih ditahan-tahan oleh Pemerintah Pusat, seperti yang disebutkan dalam Mou Helsinki bahwa Aceh Mendapatkan 70 persen dari hasil kekayaan alamnya. Ini sangat krusial dan sangat penting, karena disinilah sumber kesejahteraan rakyat Aceh disamping Aceh berhak mendapatkan dana otsus.
Pada prinsipnya semua organisasi partai politik itu sama, bedanya hanya persoalan kepentingan politik yang diatur dalam AD/ART masing-masing. Terkait partai aceh, bagi saya sangat istimewa karena lahirnya Partai Aceh memiliki sejarah perjuangan politik yang sangat panjang dan dilandasi atas dasar ideologi wali Hasan Tiro.”

Pada Akhirnya, sebagai sahabat, saya menitik harapan kepada Mantan Wakil Ketua Ipelmaja ini untuk terus meningkatkan kualitas politiknya—menjadi politisi yang jujur dan amanah dan menentramkan hati masyarakat dengan tutur bicaranya—menyelesaikan masalah dengan bijak dan dewasa. Tak sekedar harapan tapi juga doa’—semoga dengan keaktifannya sebagai Jubir Muda Partai Aceh DPW Aceh Jaya merupakan langkah awal baginya untuk melenggang ke pentas politik yang sebenarnya—mulai dari daerah hingga propinsi bahkan Go Nasional. Jubir PA Jaya merupakan langkah awal menentukan langkah politiknya selanjutnya. Selama Shiddiq, Amanah, Tabligh dan Fathanah masih dikandung badan politik Azis Muhajir, doa terbaik dari saya tak akan pernah berhenti. Semoga dikau selalu berjaya dan sukses Donya Akherat. Amin
Sekian !




You Might Also Like

0 komentar: