Aceh,

Tatha Rayhan, Kisah Film Sang Pemimpi Di Dunia Nyata

Maret 01, 2017 Unknown 0 Comments

Tatha Rayhan, Kisah Film Sang Pemimpi Di Dunia Nyata


"Masa muda. Masa yang berapi-api." 
Ucap pria berambut gimbal,bersegaram putih abu-abu yang berdiri di tengah ruangan kelas yang berukuran 4x4 meter persegi.

Ungkapan yang dikutip dari penggalan lirik lagu karya Rhoma Irama ini mendadak membuat seisi ruangan kelas yang berada di salah satu sekolah di Bengkulu Timur ini dengan penuh tawa. Bahkan, sebagian dari siswa memukul meja sembari memegang perutnya. Pria tersebut adalah Viki Setiawan. Pemeran tokoh "Ikal" di dalam film yang berjudul "Sang Pemimpi". 

Film yang disutradarai oleh Riri Riza ini menceritakan tentang dua anak dari Bengkulu Timur yang mempunyai cita-cita melanjutkan pendidikannnya hingga ke Negara Menara Eifel. Francis. Arai dan Ikal menjadi tokoh utama di dalam film yang diproduseri oleh Mira Lesmana ini.
Beragam tantangan dilewati oleh mereka berdua untuk melanjutkan pendidikannya. Dimulai dengan menjadi kuli pembawa ikan hingga menjadi salah satu pegawai di kantor pos.


Sempat putus asa di karenakan kepergian sahabatnya. Arai,yang diperankan oleh Ariel Noah. Membuat ikal menguburkan impiannya ke Francis. Namun,semangatnya kembali bangkit kala ia mengingat usahanya sedari SMA. Ia pun kembali berjuang.

" Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak". Ikal dan Arai pun kembali dipertemukan sebagai salah satu peserta yang berhasil lulus untuk menempuh pendidikan di Negara Perancis.

Tatha Rayhan, Kisah Film Sang Pemimpi Di Dunia Nyata

Cerita fiksi karya Andrea Hirata ini tidak hanya terjadi di dunia mimpi. Tapi juga terjadi di kisah nyata. Adalah Tathahira dan Rayhan Izzati Basith. Sepasang sahabat karib yang berteman walaupun mempunyai latar belakang budaya yang berbeda. Tathahira merupakan pria yang lahir dari kota naga,Tapak Tuan,Aceh Selatan. Sedangkan Rayhan merupakan wanita yang lahir di Ibu kota Aceh,Banda Aceh.

Lulus sebagai Mahasiswa Tarbiyah English(TEN) pada Fakultas Tarbiyah UIN Ar-Raniry pada tahun 2010 menjadi awal perkenalan mereka. Latar belakang penguasaan Bahasa Inggris yang cukup handal membuat mereka cukup dikenal di kalangan mahasiswa TEN lainnya.

Noufrizal,salah satu teman seletingnya mengatakan jika pribadi Tathahira dan Rayhan ini merupakan panutan bagi teman-teman lainnya. 
"Mereka berdua diibaratkan seperti pinang yang dibelah dua. Sama-sama mempunyai pikiran yang cerdas dan sangat berambisi untuk mewujudkan keinginannya."


Tatha Rayhan, Kisah Film Sang Pemimpi Di Dunia Nyata
Rayhan & Tatha di Autralia | Photo via Instagram


Kuliah di dua kampus yang berbeda,sempat membuat mereka tidak akrab di karenakan harus berpindah unit. Selain menempuh pendidikan Bahasa Inggris di UIN Ar-Raniry,Tathahira juga pernah tercatat sebagai Mahasiswa Fakultas Ekonomi Jurusan Akutansi Unsyiah sedangkan Rayhan mengambil konsentrasi Pendidikan Bahasa Inggris di Unsyiah. Namun,di karenakan beberapa alasan. Tathahira memilih untuk fokus kuliah di kampus UIN Ar-Raniry.

Memasuki semester tujuh pada tahun 2013. Himpunan Mahasiswa Jurusan(HMJ) Bahasa Inggris atau lebih dikenal dengan sebutan EDSA(English Department Student Assosiation) melakukan sayembara pemilihan Calon Ketua HMJ Bahasa Inggris (lebih dikenal dengan sebutan Presiden Edsa). Sayembara yang dipimpin langsung oleh Presiden Edsa periode 2012-2013,Khairul Azmi. Ini melahirkan dua calon presiden dari leting 2010. Wildan Sani Rasyid dan Tathahira. 

Setelah ditunjuk sebagai calon,Wildan dan Tathahira secara bergantian memasuki seluruh ruang kelas mahasiswa Bahasa Inggris. Visi misi diutarakan oleh mereka berdua. Tak lama setelah itu,pemilihan calon presiden pun dilaksanakan. Wildan terpilih sebagai Presiden Edsa dan Tathahira sebagai Sekretaris Jenderal(Sekjen) Edsa. Tak hanya mereka berdua,Rayhan Izzati Bassith dipilih sebagai Bendahara Edsa.

Intensitas pertemuan yang terlalu sering di ruang EDSA sejak dipercayakan menjadi pengurus. Membuat hubungan Tathahira dan Rayhan menjadi sangat dekat. Tak ayal banyak orang yang menganggap mereka telah menyatukan jalinan kasih mereka di dalam satu ikatan yang lebih serius.
"Mereka dulu cukup dekat. Saya sangat setuju jika mereka menjadi sepasang kekasih. Mereka pasangan yang saling melengkapi" ujar Noufrizal.
Tak lama memangku jabatan penting di organisasi mahasiswa,mereka terpaksa harus disibukkan oleh Program Praktik Lapangan(PPL) dan Kuliah Pengabdian Masyarakat(KPM) Kesibukan ini sempat membuat intensitas pertemuan mereka menjadi jarang.

Sepulangnya dari KPM. Kisah kasih mereka kembali terajut. Skripsi membuat mereka menjadi pelanggan tetap di sudut kantin Aljami'ah UIN Ar-Raniry. Sayangnya,Tathahira tak seberuntung Rayhan. Rayhan berhasil menyelesaikan gelar Sarjana Pendidikan Islam pada tahun 2014 dan berhasil meraih gelar mahasiswa bahasa inggris terbaik.

"Pembimbing saya dengan Tatha sama. Kami susah tuk jumpai pembimbing,makanya Tathahira tidak menyelesaikan skripsinya." Kata Noufrizal. 

Pada bulan Februari 2015,Tathahira pun berhasil menyamai gelarnya dengan Rayhan. Selain itu,ia juga terpilih sebagai Mahasiswa Terbaik TEN pada wisuda yang dilaksanakan di penghujung bulan Februari tersebut.

Setelah lulus,mereka tak lantas berdiam diri. Melanjutkan pendidikan keluar negeri menjadi cita-cita. Beragam jenis beasiswa pun mereka ikuti. Tekanan yang cukup kuat sempat membuat Tathahira menjadi surut. Namun,semangat yang diberikan oleh Rayhan membuat Tatha menjadi kembali termotivasi.

Alhasil. Alumni Terbaik TEN ini pun berhasil lulus beasiswa LPDP dan berhak melanjutkan master di Monash University,Australia. Tathahira mengambil konsentrasi Master of Education of Digital Learning dan Rayhan mengambil konsentrasi Master of Applied Linguistic.
Tatha Rayhan, Kisah Film Sang Pemimpi Di Dunia Nyata
Photo Via Instagram | Jangan Baper Baca Captionnya YA.


Pada tahun 2016 Tathahira pun mengikat Rayhan dalam ikatan suci pernikahan. 
"Segeralah berkarya,jangan lalai akan hal-hal yang sia sia. Berbakti kepada orang tua dan menjadi manusia yang bermanfaat terhadap manusia lainnya. Tetap menjadi "down - to - earth" person,karena orang yang pintar banyak,so just be yourself. Di atas langit masih ada langit." Pesan Tatha untuk pemuda Aceh. 

Tak mau kalah dengan suaminya,Rayhan juga mengajak seluruh pemuda Aceh agar jangan malas dam tidak duduk di warung kopi tanpa tujuan yang jelas. 
"Yang paling penting,taat kepada Allah dan berbakti kepada orang tua. Karena semua kesuksesan yang akan dicapai berkat doa orang tuamu yang dikabulkan oleh Allah."Tutup Rayhan.

Semoga cerita mereka berdua dapat menginpirasi anak muda Indonesia, dan ini salah satu bukti The of Power of Nikah Muda. Rezeki Allah selalu terbuka bagi mereka yang berusaha. Mereka  dapat dihubungi via Instagramnya instathahira dan rayhanbasith
____________
Writer : Nofrizal, Kontributor  acehlens.com ,Mahasiswa MJC XIII, Alumni TEN 2010
Editor : Syafrizal Elselatany

You Might Also Like

0 komentar: